Julius Warouw: Walaupun Kecil Tapi Kami Harus Memulainya

oleh -20 views
Managing Director Synthesis Development Julius Warouw, (Foto: Ist)

Jakarta, JENDELANASIONAL.COM — Pertumbuhan kota di Indonesia merupakan yang paling cepat dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Asia. Migrasi ke kota menyebabkan permintaan bangunan di wilayah metropolitan semakin tinggi.

Di Indonesia, gedung-gedung saat ini menyedot 30% dari total konsumsi energi dan angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 40% pada tahun 2030.

Karena itu, pengembang Synthesis Development coba mengembangkan konstruksi yang lebih ramah lingkungan. Apalagi pada tahun 2030, sekitar 71% penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di kota besar di Indonesia.

Managing Director Synthesis Development Julius Warouw mengatakan, apartemen pertama miliknya yang mengadopsi konsep bangunan hijau adalah Samara Suites. “Samara Suites, apartemen di Jl. Gatot Subroto Jakarta, yang terdiri dari 39 lantai dan total 292 unit mendapatkan sertifikasi EDGE, hal ini menunjukkan sebagai pelaku konstruksi, Synthesis Development mengoptimalkan rancangan bangunannya sehingga efisien dalam penggunaan listrik dan air, sehingga memiliki nilai lebih sebagai sebuah hunian dan investasi,” ujar Julius.

Julius mengatakan, dengan diadopsinya konstruksi yang ramah terhadap lingkungan, pihaknya mampu mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien. “Kami harapkan, program sertifikasi EDGE ini mampu mendorong pertumbuhan pembangunan gedung sehingga menggunakan sumber daya secara efisien,” ujarnya.

Dia mengatakan, Samara Suites merupakan proyek pertama yang menggunakan konstruksi yang ramah lingkungan. Ke depan, pihaknya berkomitmen untuk terus merancang bangunan-bangunan yang ramah lingkungan. “Komitmen kami yaitu akan menggunakan sumber daya yang lebih efisien ke depan. Walaupun kecil, tapi kami harus memulainya karena sesuai dengan tagline kami yaitu membangun untuk kehidupan yang berkualitas,” ujarnya.

DKI Jakarta telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 38 yang diimplementasikan pada 2013 tentang bangunan gedung ramah lingkungan, atau gedung hijau. Jakarta merupakan kota pertama yang menerbitkan regulasi tersebut di Indonesia. Dalam aturan tersebut terdapat berbagai syarat suatu bangunan bisa dikatakan ‘green building’.

“Bangunan hijau dapat membantu kota-kota di Indonesia tumbuh secara berkelanjutan. Hingga sepertiga dari konsumsi energi dan air yang dipakai gedung-gedung di Indonesia dengan mudah bisa dikurangi melalui desain dan pengelolaan gedung yang lebih baik. Seperti, berapa ratio jendela dibandingkan tembok di gedung tersebut, bagaimana sirkulasi udara, hingga penggunaan lampu dan pendingin ruangan,” ujar Julius.

Yanu Aryani, EDGE Consultant – EDGE Indonesia mengatakan, bahwa sistem sertifikat bangunan hijau internasional dikembangkan oleh anggota dari group bank dunia. Sertifikat itu diberikan kepada bangunan dengan desain yang dapat menghemat energi, air dan kandungan energi dalam material sebanyak 20 persen dibandingkan dengan bangunan konvensional.

“Kami sejak 2015 telah mengeluarkan certifikat dan salah satunya Samara Suites. Samara Suites mampu menghemat energi sebesar 31 persen, air sebesar 35 persen, dan kandungan energi dalam material sebesar 48 persen,” ujarnya.

Di Indonesia, EDGE diluncurkan Juni 2015 bersama dengan Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) sebagai partner lokal. Saat ini lebih dari 50 EDGE sertifikasi yang telah dikeluarkan untuk beberapa proyek di Indonesia.

“EDGE merupakan sistem sertifikasi bangunan hijau yang membuktikan bahwa membangun dengan menerapkan praktek-praktek yang bertanggung-jawab secara lingkungan di negara berkembang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip bisnis,” ujar Yanu. (Ryman)